Memahami Apa yang Terjadi di Dunia ini

Mungkin sulit memahami kenapa dunia makin hari makin kacau, ketegangan makin hari kian terasa. Selalu saja ada permasalahan yang muncul, bertubi-tubi. Dulu, sebelum aku memiliki perspektif seperti sekarang ini, aku pun menyadari bahwa kerusuhan itu sudah ada, tidak ada habisnya, hilang satu muncul lagi seribu masalah. Makanya aku berpikir untuk apa terlalu memikirkan hal itu, masalah yang ada tidak akan pernah ada habisnya, lebih baik memikirkan diri sendiri. Ya, itu pemikiranku dulu sebelum aku belajar tentang berpikir politis.

Banyak teori yang mencoba menjelaskan tentang konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Sebaiknya kita mulai menambah pengetahuan kita untuk memahami konflik yang terjadi saat ini secara global, termasuk kekacauan yang terjadi di Indonesia. Seseorang harus memahami apa yang terjadi agar kita tidak terjebak pada mudahnya menyudutkan sesuatu yang belum kita ketahui.

Sadar atau tidak, kebanyakan dari manusia akan mengecam sesuatu yang tidak dipahaminya. Hal ini sudah terjadi sejak berabad-abad lalu. Kita juga sudah berulangkali mendengar perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dan sahabatnya saat menyampaikan Islam kepada kaum Quraisy tidak terlepas dari ejekan, hinaan bahkan boikot yang menyebabkan pada melayangnya nyawa sejumlah orang. Mereka menganggap apa yang disampaikan Rasulullah sebagai sesuatu yang mengada-ada dan pada akhirnya mereka mencap Rasulullah sebagai orang gila. Dari sini, kita bisa mengambil ibrahnya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam yang bahkan dijamin terpelihara oleh Allah subhanahu wa ta’ala saja mengalami hal semacam itu, apalagi kita yang hanya manusia biasa.

Robert Huntington dalam karyanya The Clash of Civilization mengeluarkan teori mengenai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia pasca Perang Dingin. Ia berpendapat bahwa pasca Perang Dingin, dunia akan lebih banyak didominasi oleh dinamika politik yang disebabkan oleh benturan peradaban (kultural) alih-alih konflik yang disebabkan oleh nasionalisme.

Teori ini ternyata telah memancing reaksi dari berbagai kalangan, karena ia mengatakan bahwa secara umum di antara peradaban yang berbenturan tersebut adalah peradaban Barat dan peradaban Islam, bahkan dikatakan bahwa Islam menjadi penghambat demokrasi. Merujuk pada teori ini, banyak orang yang melihat penumpasan terhadap terorisme terlebih setelah peristiwa 11 September 2001 (pengeboman menara WTC di New York) merupakan  pertempuran antara Peradaban Barat dan Peradaban Timur (Islam).

Banyak ahli menganggap karya Huntington ini tendensius, ahistoris, mengada-ada, terlalu primordial dan sangat naif. Mereka menganggap di dunia yang semakin maju, pemikiran Huntington justru terlempar jauh ke belakang seribu tahun. Hal ini juga disebabkan oleh apa yang mereka lihat berdasarkan realita yang ada yang menunjukkan bahwa berbagai perseteruan yang terjadi di dunia disebabkan oleh perebutan kekayaan alam, minyak, senjata dan sebagainya. Walaupun Barat menyerukan perang melawan teroris Islam, tapi ujung-ujungnya mereka mencengkramkan kekuasaannya hanya untuk mendapatkan kekayaan. Mereka lebih suka menyebutnya sebagai pertentangan antara para kapitalis dan para buruh yang telah dijajah hidupnya.

Mereka, para ahli tersebut boleh saja mengatakan pendapat Huntington tersebut sebagai pendapat yang mengada-ada, naif, primordial dan sebagainya. Namun, jika diteliti lebih lanjut maka kita bisa melihat bahwa memang telah terjadi perang peradaban.

Banyak pendapat para ahli yang menyatakan bahwa Barat berada dalam ketakutan (coba saja cari tesisnya). Menurut kacamata Barat, Islam dinilai sebagai agresi dan ancaman. Mereka takut akan adanya kebangkitan Islam. Ketakutan-ketakutan mereka inilah yang menyebabkan mereka melangkah dengan melancarkan stereotip-stereotip (penyifatan suatu golongan yang didasarkan pada prasangka yg subjektif dan tidak tepat) terhadap Islam, yaitu Islam fanatik, ekstrimis, fundamentalis, militan dan sebagainya, kemudian menekan kelompok yang dilabeli dengan label yang “menakutkan” sementara itu, mereka memberikan penghargaan sedemikian rupa pada kelompok lainnya yang dilabeli dengan label yang dianggap lebih mulia seperti Islam moderat, toleran, dan sebagainya. Ya, ini metode pemecah belah yang efektif. Pada akhirnya, Islam yang ditakuti dengan kebangkitannya menjadi sibuk menghadapi perpecahan dari dalam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s