Membaca Al-Quran bagi Wanita Haid

Para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan mengenai muslimah yang sedang haid membaca al-Quran.

kitab-suci-alquran-ilustrasi-_121210192530-935

Asy-Syaikh al-Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir telah memberikan penjelasan seputar hukum syara’ wanita haid membaca al-Quran.

Para fukaha berbeda pendapat mengenai hukum wanita haid membaca al-Quran secara lisan dari hafalan. Di antara mereka ada yang mengharamkannya dan ada yang membolehkannya. Sementara itu, menurut Syaikh Atha’ yang rajih adalah bahwa wanita yang sedang haid  ketika membaca al-Quran tidak boleh melafazhkannya. Al-Hakim telah mengeluarkan di al-Mustadrak dari Sulaiman bin Harb dan Hafshin bin Amru bin Murrah dari Abdullah bin Salamah, ia berkata: kami menemui Ali ra, saya dan dua orang laki-laki… lalu Ali ra berkata:

“Rasulullah saw membuang hajat, membaca al-Quran, dan beliau memakan daging. Tidak ada yang menghalangi beliau dari membaca al-Quran sesuatu pun selain janabah.”

Al-Hakim berkata: “Ini hadits shahihu al-isnad.” Dan adz-Dzahabi menshahihkannya. Jelas dari hadits tersebut bahwa Rasul saw membaca al-Quran secara lisan dari hafalan kecuali jika beliau sedang junub. Artinya tidak boleh bagi orang yang sedang junub membaca al-Quran. Apa yang berlaku bagi orang yang sedang junub juga berlaku bagi wanita yang sedang haid dari sisi membaca al-Quran.

Rasulullah saw bersabda:

“Janganlah seseorang yang sedang haid dan jangan pula seseorang yang sedang junub membaca sesuatupun dari al-Quran.” (HR at-Tirmidzi)

Hadits ini meski ada kritik tentangnya, banyak fukaha yang mengambilnya. Pengharaman membaca al-Quran bagi orang yang sedang junub dan orang yang sedang haid telah dinyatakan di dalam hadits shahih.

Itulah dalil yang menjadikan pendapat bahwa wanita haid tidak boleh membaca al-Quran sebagai pendapat yang rajih.

Dalam hal menyentuh al-Quran, hukumnya bagi orang yang sedang junub dan wanita haid adalah tidak boleh. Hukumnya haram sesuai firman Allah SWT:

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (TQS al-Waqi’ah [56]: 79)

Hukumnya adalah haram bagi wanita haid menyentuh mushaf al-Quran dan membaca darinya.

Sedangkan membawa tablet atau ponsel yang memuat program al-Quran al-Karim, para fukaha telah membahas masalah tersebut. Yang rajih menurut Syaikh Atha’ adalah boleh membawa ponsel yang memuat program al-Quran al-Karim sebab itu tidak mengambil hukum mushaf. Fakta tersimpannya program al-Quran al-Karim di ponsel bukan seperti tulisan. Ponsel juga memuat program selain program al-Quran sehingga juga digunakan untuk urusan lainnya. Karena itu ponsel yang memuat program al-Quran tidak mengambil hukum mushaf.

Ketika program al-Quran itu dijalankan dan teks al-Quran muncul di layar.

Dalam keadaan ini maka teks yang tertulis itu mengambil hukum mushaf sebab hal itu termasuk tulisan teks. Haram menyentuh layar yang menambilkan teks al-Quran kecuali bagi orang yang suci, sebab posisinya seperti tulisan di atas kertas, lembaran dan kulit yang di atasnya tertulis mushaf. Jadi, tidak diperbolehkan membaca al-Quran pada ponsel yang menampilkan layar berisi teks al-Quran bagi orang yang sedang haid, begtu pula membawa ponsel tersebut dalam kondisi program al-Quran terbuka di layar ponsel.

Ponsel yang hanya memuat program al-Quran al-Karim dimana program itu dibuka di layar untuk dibaca. Ponsel tersebut tidak digunakan kecuali untuk membaca al-Quran saja dan di dalamnya tidak ada program lainnya. Dalam keadaan ini maka ponsel itu tidak boleh dibawa oleh orang yang sedang junub dan wanita yang sedang haid.

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s