MIKROBIOLOGI: JAMUR (FUNGI)

 

FUNGI (CENDAWAN = MYCOTA)

A. Pengertian Fungi

Fungi merupakan organisme eukariot heterotrof yang memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya yang bersifat uniseluler maupun multiseluler. Nama yang diberikan untuk cendawan berasal dari wakilnya yang mencolok, yaitu cendawan topi (Yunani): mykes, latin: fungus) (Schlegel dan Schmidt, 1994). Fungus berarti tumbuh dengan subur. Istilah ini selanjutnya ditujukan kepada jamur yang memiliki tubuh buah serta tumbuh atau muncul di atas tanah atau pepohonan (Tjitrosoepomo, 1991). Ilmu yang mempelajari tentang jamur disebut mikologi (Mycota = mykes, logos = ilmu).
Jamur adalah eukariota yang mencerna makanan secara eksternal dan menyerap nutrisi secara langsung melalui dinding sel-nya. Jamur adalah heterotrof dan, menyerupai hewan, yaitu memperoleh karbon dan energi dari organisme lain. Beberapa jamur mendapatkan nutrisi mereka dari host hidup (tanaman atau hewan) dan disebut biotrophs; yang lain mendapatkan nutrisi dari tanaman mati atau hewan dan disebut saprotrophs (saprophytes, saprob). Beberapa jamur menginfeksi host hidup, tetapi membunuh sel inang untuk mendapatkan nutrisi mereka; ini disebut necrotrophs (Carris et al., 2012).

B. Ciri-Ciri Jamur

Organisme yang disebut jamur bersifat heterotrof, dinding sel spora mengandung kitin, tidak berplastid, tidak berfotosintesis, tidak bersifat fagotrof, umumnya memiliki hifa yang berdinding yang dapat berinti banyak (multinukleat), atau berinti tunggal (mononukleat), dan memperoleh nutrien dengan cara absorpsi (Gandjar, et al., 2006). Jamur mempunyai dua karakter yang sangat mirip dengan tumbuhan yaitu dinding sel yang sedikit keras dan organ reproduksi yang disebut spora. Dinding sel jamur terdiri atas selulosa dan kitin sebagai komponen yang dominan. Kitin adalah polimer dari gugus amino yang lebih memiliki karakteristik seperti tubuh serangga daripada tubuh tumbuhan. Spora jamur terutama spora yang diproduksi secara seksual berbeda dari spora tumbuhan tinggi secara penampakan (bentuk) dan metode produksinya (Alexopoulus dan Mimms, 1979).
Di antara semua organisme, jamur adalah organisme yang paling banyak menghasilkan enzim yang bersifat degradatif yang menyerang secara langsung seluruh material oganik. Adanya enzim yang bersifat degradatif ini menjadikan jamur bagian yang sangat penting dalam mendaur ulang sampah-sampah alam, dan sebagai dekomposer dalam siklus biogeokimia (Mc-Kane, 1996). Menurut Alexopoulus dan Mimms (1979), beberapa karakteristik umum dari jamur yaitu: jamur merupakan organisme yang tidak memiliki klorofil sehingga cara hidupnya sebagai parasit atau saprofit. Tubuh terdiri dari benang yang bercabang-cabang disebut hifa, kumpulan hifa disebut miselium, berkembang biak secara aseksual dan seksual.
Reproduksi secara aseksual pada jamur dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu dengan fragmentasi miselium, pembelahan (fission) dari sel-sel somatik menjadi sel-sel anakan. Tunas (budding) dari sel-sel somatik atau spora, tiap tunas membentuk individu baru, pembentukan spora aseksual, tiap spora akan berkecambah membentuk hifa yang selanjutnya berkembang menjadi miselium (Pelczar dan Chan, 1986). Reproduksi secara seksual melibatkan peleburan dua inti sel yang kompatibel. Proses reproduksi secara seksual terdiri dari tiga fase yaitu plasmogami, kariogami dan meiosis. Plasmogami merupakan proses penyatuan antara dua protoplasma yang segera diikuti oleh proses kariogami (persatuan antara dua inti). Fase meiosis menempati fase terakhir sebelum terbentuk spora. Pada fase tersebut dihasilkan masing-masing sel dengan kromosom yang bersifat haploid (Alexopoulus dan Mimms, 1979).
Jamur bersifat heterotrof artinya tidak dapat menyusun atau mensintesis makanan sendiri. Jamur hidup dengan memperoleh makanan dari organisme lain atau dari materi organik yang sudah mati. Berdasarkan cara pengambilan makanannya jamur terbagi menjadi :

  1. Jamur Saprofit

Jamur saprofit menghasilkan bermacam-macam enzim ekstraseluler yang bisa mendegradasi kebanyakan makromolekul alam. Kebanyakan jamur saprofit berperan sebagai dekomposer yang penting dalam siklus biogeokimia. Jamur berperan sebagai organisme awal yang mendegradasi kayu. Hal ini disebabkan, dengan eksepsi dari sedikit bakteri hanya jamur yang mampu memecah lignin. Lignin mengisi ± 25% dari materia yang terdapat di hutan. Selain itu mereka juga mencerna material hewan mati (Mc-Kane, 1996).

  1. Jamur Parasit

Banyak sekali penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh jamur, dan penyakit tersebut mempengaruhi pertumbuhan tanaman sehingga tanaman menjadi sakit, bahkan mati. Jamur-jamur parasit ini juga menyerang tanaman pertanian dan menyebabkan tanaman tersebut rusak, dan bisa menyebabkan gagal panen. Jamur parasit umumnya hidup (menyerang) pada inang yang spesifik. Selain itu jamur parasit adalah faktor utama yang memperpendek usia penyimpanan bahan pangan dan makanan di dunia, terkecuali jika diawetkan (Pacioni, 1981).

  1. Asosiasi Mutualistik

Banyak jamur yang terlibat hubungan yang sukses dengan serangga dan tumbuhan, mereka berpartner yang saling menguntungkan, sebuah fenomena yang disebut mutualisme. Kira-kira 10% dari seluruh jenis fungi yang diketahui adalah anggota dari asosiasi mutualistik yang disebut lichens. Lichens tersusun dari jamur dan algea dan cynobakter. Jamur juga membentuk asosiasi mutualisme yang bermanfaat dengan akar tanaman, membentuk mikoriza. Jamur ini mengkoloni buluh akar dan berfungsi memperluas permukan sentuh antara akar tumbuhan dengan permukaan tanah. Mikoriza mempengaruhi kemampuan tumbuhan untuk menyerap air dan nutrien dari tanah, dan meningkatkan aktifitas metabolisme tumbuhan, angka pertumbuhan, dan peningkatan hasil (Mc-Kane, 1996).
Fungi bersifat khemoorganotrof dan memperoleh nutrisinya secara absorpsi dengan bantuan enzim ekstraseluler untuk memecah biomolekul kompleks seperti karbohidrat, protein, dan lemak menjadi monomernya yang akan diasimilasi menjadi sumber karbon dan energi (Madigan et al., 2012). Bahan makanan ini akan diurai dengan bantuan enzim yang diproduksi oleh hifa menjadi senyawa yang dapat diserap dan digunakan untuk tumbuh dan berkembang (Sinaga, 2000). Penyerapan makanan dilakukan oleh hifa yang terdapat pada permukaan tubuh fungi (Lockwood, 2011).

C. Struktur Tubuh Jamur

Berdasarkan struktur dasarnya, fungi dibagi menjadi 3 kelompok yaitu khamir (yeast), kapang (mold) dan cendawan (mushroom).

  • Khamir (Yeast)

Yeast merupakan sel tunggal (uniseluler) yang membentuk tunas dan pseudohifa (Webster dan Weber, 2007).  Hifanya panjang, dapat bersepta atau tidak bersepta dan tumbuh di miselium. Yeast memiliki ciri khusus bereproduksi secara aseksual dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk. Beberapa khamir dapat bereproduksi secara seksual dengan membentuk aski atau basidia dan dikelompokkan ke dalam Ascomycota dan Basidiomycota. Dinding sel yeast adalah struktur yang kompleks dan dinamis dan berfungsi dalam menanggapi perubahan lingkungan yang berbeda selama siklus hidupnya (Hoog et al., 2007). Sel khamir biasanya berbentuk telur, beberapa memanjang atau bentuk bola. Khamir tidak dilengkapi flagelum atau organ penggerak lainnya.

  • Kapang (mold)

Kapang  adalah jenis lain dari fungi, sebagian besar memiliki tekstur yang tidak jelas  dan biasanya ditemukan pada permukaan makanan yang membusuk atau hangat, dan tempat-tempat lembab. Sebagian besar kapang berreproduksi  secara aseksual, tetapi ada beberapa spesies yang bereproduksi secara seksual dengan menyatukan dua jenis sel untuk membentuk zigot dengan produk uniselular sel  (Viegas, 2004). Talusnya terdiri dari filamen panjang yang bergabung bersama membentuk hifa. Hifa dapat tumbuh banyak sekali, hifa fungi tunggal di oregon dapat mencapai 3,5 mm. Sebagian besar kapang, hifanya bersepta dan bersifat uniseluler. Hifanya disebut hifa bersepta. Pada beberapa kelas fungi, hifanya tidak bersepta dan di sepanjang selnya terdapat banyak nukleus yang disebut coenocytic hyphae.

  • Cendawan (Mushroom)

Cendawan merupakan salah satu kelompok dalam phylum fungi yang biasa disebut dengan mushroom. Cendawan (mushroom) adalah fungi makroskopis yang memiliki tubuh buah dan sering digunakan untuk konsumsi. Cendawan memiliki bagian yang disebut dengan tubuh buah. Tubuh buah tersebut terdiri dari holdfast atau bagian yang menempel pada substrat, lamella, dan pileus (Dwidjoseputro, 1994). Menurut Schlegel dan Schmidt (1994), cendawan merupakan organisme yang berinti, mampu menghasilkan spora, tidak mempunyai klorofil karena itu jamur mengambil nutrisi secara absorbsi. Pada umumnya bereproduksi secara seksual dan aseksual, struktur somatiknya terdiri dari filamen yang bercabang-cabang. Cendawan memiliki dinding sel yang terdiri atas kitin atau selulosa ataupun keduanya.

Tubuh fungi secara umum terdiri dari:

  1. Hifa

Fungi secara morfologi tersusun atas hifa. Dinding sel hifa bebentuk tabung yang dikelilingi oleh membran sitoplasma dan biasanya berseptat. Fungi yang tidak berseptat dan bersifat vegetatif biasanya memiliki banyak inti sel yang tersebar di dalam sitoplasmanya. Fungi seperti ini disebut dengan fungi coenocytic, sedangkan fungi yang berseptat disebut monocytic (Madigan et al., 2012).
Kumpulan hifa akan bersatu dan bergerak menembus permukaan fungi yang disebut miselium. Hifa dapat berbentuk menjalar atau menegak. Biasanya hifa yang menegak menghasilkan alat perkembangbiakan yang disebut spora. Septa pada umumnya memiliki pori yang sangat besar agar ribosom dan mitokondria dan bahkan nukleus dapat mengalir dari satu sel ke sel yang lain. Miselium fungi tumbuh dengan cepat, bertambah satu kilometer setiap hari. Fungi merupakan organisme yang tidak bergerak, akan tetapi miselium mengatasi ketidakmampuan bergerak itu dengan menjulurkan ujung-ujung hifanya denagan cepat ke tempat yang baru (Campbell et al., 2010).
Pada ujung batang hifa mengandung spora aseksual yang disebut konidia. Konidia tersebut berwarna hitam, biru kehijauan, merah, kuning, dan cokelat. Konidia yang menempel pada ujung hifa seperti serbuk dan dapat menyebar ke tanah dengan bantuan angin. Beberapa fungi yang makroskopis memiliki struktur yang disebut tubuh buah dan mengandung spora. Spora tersebut juga dapat menyebar dengan bantuan angin, hewan, dan air (Madigan et al., 2012). Kavanagh (2011) melaporkan bahwa sebagian besar hifa pada yeast berbentuk lembaran, seperti pada Cythridomycetes dan Sacharomyces cerreviceae. Hifa mengandung struktur akar seperti rhizoid yang berguna sebagai sumber daya nutrisi.
Hifa dapat dijadikan sebagai ciri taksonomi pada fungi. Beberapa jenis fungi ada yang memiliki hifa berseptat dan ada yang tidak. Oomycota dan Zygomycota merupakan jenis fungi yang memiliki hifa tidak berseptat, dengan nuklei yang tersebar di sitoplasma. Berbeda dengan kedua jenis tersebut, Ascomycota dan Basidiomycota berasosiasi aseksual dengan hifa berseptat yang memiliki satu atau dua nuklei pada masing-masing segmen (Webster dan Weber, 2007).
Hifa yang tidak bersepta disebut hifa senositik, memiliki sel yang panjang sehingga sitoplasma dan organel-organelnya dapat bergerak bebas dari satu daerah ke daerah lainnya dan setiap elemen hifa dapat memiliki beberapa nukleus. Hifa juga dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya. Hifa vegetatif (miselia), bertanggungjawab terhadap jumlah pertumbuhan yang terlihat di permukaan substrat dan mempenetrasinya untuk mencerna dan menyerap nutrisi. Selama perkembangan koloni fungi, hifa vegetatif berkembang menjadi reproduktif atau hifa fertil yang merupakan cabang dari miselium vegetatif. Hifa inilah yang bertanggungjawab terhadap produksi tubuh reproduktif fungi yaitu spora (Campbell et al., 2010).
Hifa tersusun dari dinding sel luar dan lumen dalam yang mengandung sitosol dan organel lain. Membran plasma di sekitar sitoplasma mengelilingi sitoplasma. Filamen dari hifa menghasilkan daerah permukaan yang relatif luas terhadap volume sitoplasma, yang memungkinkan terjadinya absorpsi nutrien (Willey et al., 2009).

2. Dinding Sel

Sebagian besar dinding sel fungi mengandung khitin, yang merupakan polimer glukosa derivatif dari N-acetylglucosamine. Khitin tersusun pada dinding sel dalam bentuk ikatan mikrofibrillar yang dapat memperkuat dan mempertebal dinding sel. Beberapa polisakarida lainnya, seperti manann, galaktosan, maupun selulosa dapat menggantikan khitin pada dinding sel fungi. Selain khitin, penyusun dinding sel fungi juga terdiri dari 80-90% polisakarida, protein, lemak, polifosfat, dan ion anorganik yang dapat mempererat ikatan antar matriks pada dinding sel (Madigan et al., 2012). Dinding sel fungi juga tersusun oleh fosfolipid bilayer yang mengandung protein globular. Lapisan tersebut berfungsi sebagai tempat masuknya nutrisi, tempat keluarnya senyawa metabolit sel, dan sebagai penghalang selektif pada proses translokasi. Komponen lain yang menyusun dinding sel fungi adalah antigenik glikoprotein dan aglutinan, senyawa melanins berwarna coklat berfungsi sebagai pigmen hitam. Pigmen tersebut bersifat resisten terhadap enzim lisis, memberikan kekuatan mekanik dan melindungi sel dari sinar UV, radiasi matahari dan pengeringan) (Kavanagh, 2011).

3. Nukleus

Nukleus atau inti sel fungi bersifat haploid, memiliki ukuran 1-3 mm, di dalamnya terdapat 3 – 40 kromosom. Membrannya terus berkembang selama pembelahan Nuclear associated organelles (NAOs). Terkait dengan selubung inti, berfungsi sebagai pusat-pusat pengorganisasian mikrotubula selama mitosis dan meiosis. Nucleus pada fungi juga mempengaruhi kerja kutub benang spindel dan sentriol.

4. Organel-organel Sel Lainnya

Fungi memiliki mitokondria yang bentuknya rata atau flat seperti krista mitokondria. Badan golgi terdiri dari elemen tunggal saluran cisternal. Pada struktur sel fungi juga memiliki ribosom, retikulum endoplasma, vakuola, badan lipid, glikogen partikel penyimpanan, badan mikro, mikrotubulus, vesikel.

D. Cara Reproduksi Jamur

Secara alamiah jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu dengan fragmentasi miselium, pembelahan (fission) dari sel-sel somatik menjadi sel-sel anakan. Tunas (budding) dari sel-sel somatik atau spora, tiap tunas membentuk individu baru, pembentukan spora aseksual, tiap spora akan berkecambah membentuk hifa yang selanjutnya berkembang menjadi miselium (Pelczar dan Chan, 1986).
Reproduksi secara seksual melibatkan peleburan dua inti sel yang kompatibel. Proses reproduksi secara seksual terdiri dari tiga fase yaitu plasmogami, kariogami dan meiosis. Plasmogami merupakan proses penyatuan antara dua protoplasma yang segera diikuti oleh proses kariogami (persatuan antara dua inti). Fase meiosis menempati fase terakhir sebelum terbentuk spora. Pada fase tersebut dihasilkan masing-masing sel dengan kromosom yang bersifat haploid (Alexopoulus dan Mimms, 1979).
Carris et al. (2012) menyatakan bahwa jamur umumnya berkembang biak dengan pembentukan spora. Sebuah spora adalah unit kelangsungan hidup atau persebaran diri, yang terdiri dari satu atau beberapa sel, yang mampu berkecambah untuk menghasilkan hifa baru. Tidak seperti bibit tanaman, spora jamur kekurangan embrio, tetapi mengandung cadangan makanan yang dibutuhkan untuk perkecambahan. Banyak jamur menghasilkan lebih dari satu jenis spora sebagai bagian dari siklus hidup mereka. Spora jamur dapat dibentuk melalui proses aseksual hanya melibatkan mitosis (mitospora), atau melalui proses seksual yang melibatkan meiosis (meiospora). Banyak jamur dapat berkembang biak dengan baik proses seksual dan aseksual.

  1. Meiospora

Contoh spora meiospora yang merupakan produk dari meiosis yaitu ascospora dan basidiospora. Ascospora terbentuk di dalam struktur seperti kantung yang disebut ascus. Ascus mulai keluar sebagai kantung sitoplasma dan inti, dan dengan proses yang disebut “pembentukan sel bebas” (Kirk et al. 2008) dinding sel membentuk de novo sekitar masing-masing inti dan sekitarnya sitoplasma untuk membentuk askospora (biasanya delapan per ascus). Ascospora bervariasi dalam ukuran, bentuk, warna, pembentukan sekat, dan ornamen antara taksa. Basidiospora terbentuk pada basidium dan biasanya bersel satu dengan satu atau dua inti haploid. Basidiospora bervariasi dalam ukuran, warna dan ornamen tergantung pada kelompok taksonomi. Informasi lebih lanjut tentang penyebaran ascospora dan basidiospora dapat ditemukan di bawah.

2. Mitospora

Contoh mitospora adalah konidia, sporangiospora, dan zoospora, yang dibentuk oleh anggota filum Ascomycota, Zygomycota, dan Chytridiomycota, masing-masing. Tipe lain dari propagul aseksual dihasilkan oleh jamur dalam beberapa filum yang berbeda adalah chlamydospore tersebut.

  • Konidia

Konidia terbentuk dari modifikasi hifa atau sel conidiogenous sel jamur yang telah berdiferensiasi. Sel Conidiogenous dapat dibentuk secara tunggal pada hifa, pada permukaan struktur hifa agregat, atau dalam berbagai jenis tubuh buah. Tubuh buah dalam yang konidia terbentuk adalah piknidia dan acervuli. Sporodochia dan synnemata adalah contoh tubuh buah yang konidia terbentuk. Konidia yang diproduksi terutama oleh Ascomycota, meskipun beberapa Basidiomycota mampu menghasilkan mereka juga.

  • Sporangiospora

Sporangiospora propagul aseksual terbentuk di dalam sporangium bulat atau silinder dengan proses yang melibatkan pembelahan sitoplasma. Sporangiospora berdinding tipis, bersel satu, hialin atau pucat berwarna, dan biasanya bulat atau ellipsoid dalam bentuk. Satu sampai 50.000 sporangiospora dapat dibentuk dalam sporangium tunggal. Ketika dewasa, sporangiospora yang dirilis oleh kerusakan pada dinding sporangial, atau seluruh sporangium dapat tersebar sebagai satu unit. Sporangiospora diproduksi oleh jamur filum Chytridiomycota dan Zygomycota.

  1. Zoospora

Zoospora adalah mikroskopis, propagul motil, kira-kira. 2 sampai 14 pM panjang dan 2 sampai 6 pM diameter yang tidak memiliki dinding sel dan ditandai dengan memiliki satu atau lebih flagella. Flagela berdiameter ~ 0. 25 m dan panjang sampai 50 m. Zoospora yang dihasilkan oleh kelompok Jamur sejati (Chytridiomycota), dan oleh organisme jamur-seperti di Straminipila dan beberapa jamur lendir. Lamanya waktu zoospora mampu berenang ditentukan oleh endogen energi cadangan-zoospora mereka tidak dapat memperoleh makanan dari sumber-dan eksternal kondisi lingkungan. Zoospora mungkin menunjukkan gerakan kemotaksis dalam menanggapi gradien kimia, seperti eksudat akar. Pada akhir fase motil, zoospora mengalami proses yang disebut encystment dan menghasilkan dinding sel. Zoospora yang encysted, disebut kista, mungkin berkecambah langsung oleh pembentukan tabung kuman, atau tidak langsung dengan munculnya zoospora lain.
Zoospora yang terbentuk di dalam struktur kantung-seperti yang disebut zoosporangium dengan proses yang melibatkan mitosis dan sitoplasma belahan dada-sama dengan pembentukan sporangiospora di sporangia. Tergantung pada kelompok taksonomi, zoospora muncul dari zoosporangium melalui kerusakan pada dinding zoosporangial, melalui lubang preformed di dinding ditutupi dengan topi yang disebut operkulum yang membalik kembali, atau dengan sebuah plug agar-agar yang larut

  • Chlamydospora

Chamydospora adalah propagul hidup terbentuk dari sel hifa yang ada atau Konidium yang mengembangkan dinding menebal dan sitoplasma dikemas dengan cadangan lipid. Dinding sel yang menebal dapat berpigmen atau hialin, dan chlamydospora berkembang sendiri-sendiri atau dalam kelompok, tergantung pada jamur. Chlamydospora secara pasif tersebar, dalam kebanyakan kasus ketika miselium rusak. Chlamydospora dibentuk oleh berbagai kelompok jamur dan sering ditemukan dalam budaya penuaan.

  • Sclerotia

Sclerotia (Sclerotium) adalah agregasi kompak hifa dibedakan menjadi kulit terluar, kulit berpigmen, dan massa dalam sel hialin disebut medulla a. Sclerotia mengandung cadangan makanan, dan merupakan jenis hidup propagul yang dihasilkan oleh sejumlah jamur di filum Ascomycota Basidiomycota dan; di beberapa jamur, seperti Rhizoctonia solani, mereka adalah satu-satunya jenis propagul diproduksi, sedangkan pada jamur Claviceps purpurea seperti dan Sclerotinia sclerotiorum, mereka musim dingin, tungau struktur yang dapat berkecambah secara langsung, atau menimbulkan struktur di mana meiospora terbentuk.

E. Klasifikasi Jamur

Mc. Kane (1996) mengatakan setiap fungi tercakup di dalam satu kategori taksonomi, dibedakan atas tipe spora, morfologi hifa, dan siklus seksualnya. Kelompok-kelompok ini adalah : Oomycetes, Zygomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes, dan Deuteromycetes. Kecuali Deuteromycetes semua fungi menghasilkan spora seksual. Berikut tabel untuk membedakan lima kelompok fungi.
Menurut Maligan et al. (2012), fungi secara filogenetik dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu chytridiomycetes, zygomycetes, glomeromycetes, ascomycetes, dan basidiomycetes. Pembagian kelompok tersebut berdasarkan cara reproduksi.

  1. Chytridiomycota

“Chytrids” adalah sekelompok kecil jamur dengan sekitar 900 spesies yang telah teridentifikasi terdapat di berbagai habitat air dan darat di seluruh dunia. Fitur yang dimiliki oleh semua anggota filum ini adalah pembentukan zoospora dengan satu posterior diarahkan, flagela whiplash. Beberapa chytrids adalah patogen tanaman ekonomis penting, seperti, Synchytrium endobioticum, yang menyebabkan penyakit kutil hitam kentang, yang lain adalah vektor virus tanaman (Olpidium), namun sebagian besar saprofit yang menggunakan substrat seperti selulosa, kitin, dan keratin sebagai sumber makanan. Sebagaimana dicatat sebelumnya, chytrid katak (frog chytrid), Batrachochytrium dendrobatidis, telah terlibat sebagai faktor utama dalam penurunan populasi katak dan amfibi lain di seluruh dunia (Berger et al 1998;. Wake dan Vredenburg 2008)..

2. Zygomycota

Kelompok Zygomycetes terkadang disebut sebagai “jamur rendah” yang dicirikan dengan hifa yang tidak bersekat (coneocytic), dan berkembang biak secara aseksual dengan zigospora. Kebanyakan anggota kelompok ini adalah saprofit. Pilobolus, Mucor, Absidia, Phycomyces termasuk kelompok ini (Wallace, et al.,1986). Rhizopus nigricans adalah contoh dari anggota kelompok ini, berkembang biak juga melalui hifa yang koneositik dan juga berkonjugasi dengan hifa lain. Rhizopus nigricans juga mempunyai sporangiospora. Ketika sporangium pecah, sporangiospora tersebar, dan jika mereka jatuh pada medium yang cocok akan berkecambah dan tumbuh menjadi individu baru. Spora seksual pada kelompok jamur ini disebut zygospora (Tortora, et al., 2001). .

3. Ascomycota

Golongan jamur ini dicirikan dengan sporanya yang terletak di dalam kantung yang disebut askus. Askus adalah sel yang membesar, yang di dalamnya terbentuk spora yang disebut askuspora. Setiap askus biasanya menghasilkan 2-8 askospora (Dwidjoseputro, 1978). Kelas ini umumnya memiliki 2 stadium perkembangbiakan yaitu stadium askus atau stadium aseksual. Perkembangbiakan aseksual ascomycetes berlangsung dengan cara pembelahan, pertunasan, klamidospora, dan konidium tergantung kepada spesies dan keadaan sekitarnya (Sastrahidayat, 1998). Selain itu menurut Dwidjoseputro (1978), kebanyakan Ascomycetes mikroskopis, hanya sebagian kecil yang memiliki tubuh buah. Pada umumnya hifa terdiri atas sel-sel yang berinti banyak.

4. Basidiomycota

Basidiomycetes dicirikan memproduksi spora seksual yang disebut basidiospora. Kebanyakan anggota basiodiomycetes adalah cendawan, jamur payung dan cendawan berbentuk bola yang disebut jamur berdaging, yang spora seksualnya menyebar di udara dengan cara yang berbeda dari jamur berdaging lainnya. Struktur tersebut berkembang setelah fusi (penyatuan) dari dua hifa haploid hasil dari formasi sel dikaryotik. Sebuah sel yang memiliki kedua inti yang disumbangkan oleh sel yang kompatibel secara seksual. Sel-sel yang diploid membelah secara meiosis menghasilkan basidiospora yang haploid. Basidiospora dilepaskan dari cendawan, menyebar dan berkecambah menjadi hifa vegetatif yang haploid. Proses tersebut berlanjut terus (Mc-Kane, 1996).
Kelas basiodiomycetes ditandai dengan adanya basidiokarp yang makroskopik kecuali yang hidup sebagai parasit pada daun dan pada bakal buah (Rahayu, 1994). Dwidjoseputro (1978) menerangkan bahwa karakteristik dari Basiodiomycetes antara lain kebanyakan makroskopik, sedikit yang mikroskopik. Basidium berisi 2-4 basiodiospora, masing-masing pada umumnya mempunyai inti satu. Diantara Basiodiomycetes ada yang berguna karena dapat dimakan, tetapi banyak juga yang merugikan karena merusak tumbuhan, kayu-kayu dan perabot rumah tangga. Selain itu tubuh Basidiomycetes terdiri dari hifa yang bersekat dan berkelompok padat menjadi semacam jaringan, dan tubuh buah menonjol daripada Ascomycetes. Misellium terdiri dari hifa dan sel-sel yang berinti satu hanya pada tahap tertentu saja terdapat hifa yang berinti dua. Pembiakan vegetatif dengan konidia.
Pada umumnya tidak terdapat alat pembiakan generatif, sehingga lazimnya berlangsung somatogami. Anyaman hifa yang membentuk mendukung himenium disebut himenofore. Himenofore dapat berupa rigi-rigi, lamella, papan-papan dan dengan demikian menjadi sangat luas permukaan lapis himenium (Tjitrosoepomo, 1991).

5. Glomeromycota

Mikoriza arbuskula (AM) jamur, lama dianggap termasuk dalam Zygomycota, kini dimasukkan ke dalam filum yang berbeda, yaitu Glomeromycota (Shüβler et al. 2001). Glomeromycota adalah kelompok jamur kuno, yang dikenali dalam rekaman fosil setidaknya 400 juta tahun. Fungi AM merupakan bentuk obligat, asosiasi mutualistik, yang disebut endomycorrhizae, pada akar kebanyakan (~ 80%) tumbuhan vaskular. Hanya sejumlah kecil (~ 160) spesies diakui dalam filum. Salah satu fitur yang paling khas dari jamur ini adalah arbuscules yang bercabang banyak terbentuk di dalam sel-sel kortikal akar hostnya; arbuscules adalah titik pertukaran antara jamur dan tanaman, di mana karbohidrat yang dihasilkan oleh tanaman diperoleh oleh jamur, dan nitrogen, fosfor, dan mineral lainnya yang diperoleh oleh miselium jamur akan ditransfer ke tanaman. Jamur memperoleh sebanyak 20-40% dari fotosintat yang dihasilkan oleh tanaman. Beberapa jamur AM juga memproduksi struktur penyimpanan di dalam akar tanaman yang disebut vesikel. Jamur Endomycorrhizal menghasilkan jaringan hifa meluas ke luar akar (hifa extraradical). Hifa ekstraradikal berfungi untuk perpanjangan akar tanaman, peningkatan akses tanaman air dan tanah mineral, terutama fosfor dan nitrogen. Reproduksi jamur AM yaitu dengan spora yang berdinding tebal mulai dari ukuran 40-800 m dengan diameter, yang masing-masing dapat berisi ratusan atau ribuan inti. Spora dibentuk secara tunggal atau dalam kelompok, dan miselium jamur AM adalah coenocytic. Reproduksi seksual tidak diketahui terjadi dalam filum ini (Carris et al., 2012).

 

DAFTAR PUSTAKA

Alexopoulos, C.J.&C.W. Mims. 1979. Introductory Mycology. 3rd Edition. John Wiley & Sons. New York.

Campbell, N.A.,J.B.Reece., 2010. Biology 8th Edition. Pearson Education,Inc. San Fransisco.

Carris, L. M., C. R. Little, and C. M. Stiles. 2012. Introduction to Fungi. The Plant Health Instructor.

Dwidjoseputro, D. 1978. Pengantar Mikologi. Edisi ke-2. Penerbit Alumni. Bandung.

Dwidjoseputro, D.  1994.  Pengantar Mikologi.  Penerbit Alumni. Bandung

Hoog, J.L., Schwartz C., Noon A.T., O’toole E.T., Mastronarde DN, McIntosh JR, Antony C. 2007. Organization Of Interphase Microtubules In Fission Yeast Analyzed By Electron Tomography. Dev Cell. 12(3): 349-61.

Kavanagh, K. 2011. FUNGI: Biology and Application. Wiley Press. USA.

Madigan, M.T., J.M. Martinko, D.A. Stahl, and D.P. Clark. 2012. Brock Biology of Microorganisms. Pearson Education, Inc., San Francisco.

Schlegel, H.  G.  dan K.  Schmidt.  1994.  Mikrobiologi Umum.  UGM Press. Yogyakarta.

Shüβler, A., D. Schwarzott, C. Walker. 2001. A New Fungal Phylum, The Glomeromycota: Phylogeny And Evolution. Mycological Research 105:1413-1421.

Tjitrosoepomo, G. 2005. Taksonomi (Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Viegas, J. 2004. Fungi and Mold. The Rosen Publishing Group. New York.

Webster, J. and R. Weber. 2007. Introduction to Fungi. Cambridge University Press. New York.

Willey J.M., L.M. Sherwood, C.J. Woolverton. 2009. Prescott’s Principles of Microbiology. McGraw-Hill International Edition.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s