KISAH BILAL BIN RABAH, SI PENYERU ADZAN

Image

Kisah Bilal Bin Rabah baru saya ketahui saat membaca materi agama Islam waktu semester satu di bangku kuliah. Kisahnya sungguh menggetarkan hati, apalagi kisah setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Bilal Bin Rabah: “Setelah Rasulullah wafat, aku tidak mampu lagi adzan dengan baik, karena setiap aku adzan, aku hanya akan mengeluarkan suara tangisan. Hingga akhirnya ku berhenti untuk tidak adzan lagi. Aku ingin kalian menganggap setiap orang yang menyerukan adzan itu adalah suaraku yang memanggilmu untuk segera melaksanakan shalat”.

Berikut kisah Bilal Bin Rabah …

Bilal Bin Rabah adalah seorang budak berkulit hitam, memiliki majikan yang termasuk orang kafir Quraisy. Ketika tahu Bilal Bin Rabah masuk Islam, Bilal disiksa terus menerus agar Bilal Bin Rabah kembali menyembah berhala. Bilal disiksa oleh majikannya bernama Umayah dengan menggunakan batu panas. Setiap kali mereka (pemimpin Quraisy melalui algojo-algojonya) berkata “Berimanlah pada Lata dan Uzza (nama berhala)”, Bilal menjawab “Lidahku tidak bisa mengucapkannya.” Lalu Bilal malah mengucapkan “Ahad, ahad (Allah itu satu, Allah itu satu).”  Setiap itu juga penyiksaan Bilal Bin Rabah diulangi oleh mereka.

Rasulullah S.A.W. merasa iba melihat semua penyiksaan yang diderita Bilal. Pada suatu hari dia pergi mengunjungi para sahabat R.A. dan meminta sahabatnya untuk membeli Bilal dan membebaskan Bilal. Saat Bilal disiksa, Abu Bakar lah yang datang untuk memerdekakan Bilal. Mereka yang menyiksa Bilal merasa lega ada yang datang menebus Bilal, karena mereka juga sudah putus asa membujuk Bilal untuk kembali menyembah berhala mereka.

Abu Bakar pun berkata kepada Bilal: “Wahai Bilal, pada hari ini engkau telah aku merdekakan, engkau bebas dari tangan dan siksa Umaiyah. Sungguh aku berbuat seperti ini semata mata karena Allah tuhan kita”. Demikianlah atas pertolongan Allah akan kebaikan Abu Bakar, Bilal terbebas dari siksa Umaiyah yang kejam.

Abu Bakar membimbing tangan Bilal menuju rumah Rasulullah SAW, agar Rasulullah mendengar berita gembira pembebasan Bilal. Maka berita itupun menyebar ke seluruh pelosok Mekah dan mereka bergembira mendengar kabar tersebut.

Setelah hijrah ke Madinah, Bilal senantiasa bersama Rasulullah SAW sesuai dengan janjinya. Ia akan membela Islam dan membela Rasulullah sampai akhir hayatnya. Nabi Muhammad mengetahui benar watak Bilal, ketekunan dan kesetiaannya terhadap Islam.

Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu salat dan mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan salat berjamaah.

Di dalam musyawarah itu ada beberapa usulan. Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu salat telah masuk. Apabila benderanya telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi.

Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani. Ada seorang sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu salat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ke tempat itu, atau setidaknya, asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Yang melihat api itu dinyalakan, hendaklah datang menghadiri salat berjamaah.

Akhirnya Rasulullah SAW menyetujui untuk dipukulnya lonceng, padahal sebenarnya beliau sendiri tidak menyukainya, karena menyerupai orang-orang Nasrani. Namun akhirnya, ditemukan cara yang lebih baik yaitu kumandang adzan. Bilal Bin Rabah lah yang ditugaskan Rasulullah SAW menjadi muazzin untuk shalat lima waktu karena suaranya yang lantang dan merdu.

Asal-muasal dari ditemukannya adzan dan lafadz azan dapat dilihat dari hadis tentang asal muasal adzan dan iqamah yang dapat ditemukan pada satu Kitab Nailur Author Asy-Syaukani yang merupakan Kitab Syarh Kitab Al-Muntaqo Ibnu Thaimiyyah Rah dan juga dari kitab Minhajul Muslim Syeikh Abu Bakar Al-jazairi.

“Dari Muhammad Bin Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Sa’id Bin Musayyab, dari Abdullah Bin Zaid, ia berkata: “Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk salat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya, “apakah lonceng ini akan kamu jual? Orang tersebut justru bertanya,” Akan kamu pergunakan untuk apa? Aku menjawab: Akan kupakai untuk memanggil orang untuk sholat. Orang itu berkata lagi, “Maukah kamu kuajari cara yang lebih baik? Dan aku menjawab, “ya” dan dia berkata lagi dengan suara yang amat lantang:

Alllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah, Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah

Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah

Hayya ‘Alash Shalah, Hayya ‘Alash Shalah

Hayya ‘Alal Falah, Hayya ‘Alal Falah

Alllahu Akbar, Allahu Akbar

Laa Ilaaha Illallaah

Abdullah bin zaid berkata: kemudian ia mundur tidak seberapa jauh, dan berkata: apabila engkau hendah iqomah, maka katakanlah:

Alllahu Akbar, Allahu Akbar

Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah

Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah

Hayya ‘Alash Shalah

Hayya ‘Alal Falah

Qadqaamatish Shalah, Qadqaamatish Shalah

Alllahu Akbar

Laa Ilaaha Illallaah

Abdullah Bin Zaid berkata: Kemudian di waktu pagi aku datang kepada Rasulullah SAW untuk menceritakan kepadanya apa yang aku impikan itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya mimpi kamu itu adalah mimpi yang benar, Insya Allah. Kemudian Nabi memerintahkan adzan. Maka Bilal, Maula Abubakr, beradzan dengan lafal-lafal itu. Dan menyeru Rasulullah SAW untuk sholat.

Abdullah Bin Zaid berkata: Lalu Bilal datang kepada Nabi, kemudian memanggilnya pda suatu pagi untuk sholat subuh. Lalu Bilal mengeraskan suaranya dengan tinggi: Ash-Shalaatu Khairum Minan Nauum. Sa’id Bin Musayyab berkata: Lalu lafal ini dimasukkan ke dalam bagian dari adzan untuk sholat subuh.” (HR AHMAD)

“Dari Muhammad Bin Ishaq, dari Muhammad Bin Ibrahim At-Taimiy, dari Muhammad Bin Abdullah Bin Zaid, dari ayahnya, yang dikatakan dalam hadist tersebut: Maka tatkala di waktu pagi, aku datang kepada Rasulullah SAW, lalu aku ceritakan kepadanya apa yang kulihat itu. Maka Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, Insya Allah. Berdirilah bersama Bilal dan sampaikanlah kepadanya apa yang kamu impikan itu, karena Bilal itu lebih keras suaranya daripada kamu.

Ia berkata: Lalu aku menemui Bilal dan saya sampaikan kepadanya apa yang aku impikan itu, dan Bilal pun lalu adzan dengan lafal-lafal itu. Ia berkata: Lalu ‘Ummar Ibnul Khatab mendengar yang demikian itu, sedang ia berada di rumahnya. Kemudian keluar sambil menyeret selendangnya, dan berkata: Demi Allah, Yang telah mengutus Engkau (Muhammad) dengan benar. Sungguh akupun telah mimpi, persis seperti yang ia impikan. Lalu Rasulullah SAW mengucapkan: Alhamdulillah.” (HR Abu Dawud)

“Dari Timirdzi meriwayatkan bagian dari hadits tersebut dengan sanad ini, dan ia berkata: Hadits ini adalah Hasan Shohih”

Jadi Rasulullah Saw menugaskan Bilal Bin Rabah menjadi muazzin untuk shalat lima waktu. Dialah muazzin pertama dalam Islam. Suara Bilal saat melantunkan azan, begitu lantang dan merdu, menyentuh perasaan setiap orang yang mendengarnya.

Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah.

Riwayat mengatakan bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, Bilal tidak sanggup lagi mengumandangkan adzan. Setiap sampai pada “Ashyadu Anna Muhammadar Rasulullah”, suara Bilal yang biasanya merdu dan lantang menjadi bergetar yang kemudian mulai menangis dan akhirnya tidak sanggup untuk meneruskan adzannya. Ia terus menangis karena mengingat Rasulullah SAW. Semua orang yang mendengarnya juga ikut menangis tapi tidak seperti tangisan Bilal. Tidak  ada yang tahu persis apa penyebab Bilal menangis, tapi Abu Bakar Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu tahu.

Akhirnya Bilal memutuskan untuk tidak adzan lagi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ia memutuskan untuk hijrah dari Madinah. Pada suatu hari Bilal mendapatkan mimpi melihat Rasulullah SAW. Dan Rasulullah S.A.W. bersabda “Wahai Bilal, kenapa kau tidak pernah mengunjungi kami?”

Setelah mendapatkan mimpi ini Bilal pergi menuju Madinah dengan terburu-buru. Ketika sampai di Madinah, dia berbaring di makam Rasulullah S.A.W., mengingat masa lalunya bersama Rasulullah.

Kemudian Hassan dan Hussain (cucu Rasulullah S.A.W.) datang dan membujuk Bilal untuk adzan lagi. Maka Bilal pun mengumandangkan adzan. Dan riwayatnya menyebutkan bahwa Madinah bergejolak karena Bilal membawa kembali kenangan pada waktu Rasulullah S.A.W. masih hidup. Diriwayatkan bahwa pria dan wanita keluar dari rumah mereka, merobek baju mereka, dan menjambak rambut mereka sendiri karena semua ini mengingatkan mereka pada waktu Rasulullah S.A.W. masih hidup.

Tak lama kemudian Bilal pergi lagi meninggalkan Madinah karena kota itu terus mengingatkannya kepada Rasulullah S.A.W.

Kemudian datanglah waktu penaklukkan Masjidil Aqsa. Dan penjaga Al-Aqsa mengatakan “Aku hanya akan memberikan kuncinya kepada Umar ibn Khatab.” Dan Umar R.A. bepergian dari Madinah ke Masjidil Aqsa, sementara semua sahabat ada di sana, di antaranya Khalid ibn Walid, Muadz ibn Jabal, dan yang lainnya.

Kemudian mereka menghampiri Umar dan berkata “Wahai Umar, mintalah Bilal untuk mengumandangkan adzan.” Maka Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Namun, Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk.

“Hanya sekali”, bujuk Umar. “Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?” Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh.

Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.

Dan riwayat menyebutkan bahwa ketika Bilal sampai kepada “Ashyadu Anna Muhammadar Rasulullah”, jenggot para sahabat ketika mereka masuk Islam berwarna hitam, namun sekarang berubah menjadi kelabu, karena jenggot mereka dibanjiri air mata. Tidak ada satu pun jenggot seorang sahabat yang tidak dibanjiri air mata, mereka sampai meminta nasihat kepada Umar ibn Khatab, karena hal ini mengingatkan mereka ketika masih menemani Rasulullah S.A.W.

Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan terakhirnya Bilal Ra. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi.

Dan inilah keutamaan yang menakjubkan dari Bilal, karena dia mengumandangkan adzan, di tanah Haram di Mekkah, di masjid Rasulullah S.A.W., dan juga Masjidil Aqsa, di ketiga tempat suci ini.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah Bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali Bin Abu Thalib, ‘Ammar Bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad Bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Pada tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Sang istri di sampingnya tidak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya. “Jangan menangis,” katanya kepada istri. “Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika Allah mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari.” Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Beliau dimakamkan di kota Damsyik

Sumber:

http://abuthalhah.wordpress.com/2012/04/16/kisah-adzan-terkahir-bilal-Bin-rabah-radiyallahu-anhu/

http://gadenks.blogspot.com/2013/01/kisah-bilal-Bin-rabah.html

http:/ http://lampuislam.blogspot.com/2013/08/kisah-bilal-Bin-rabah-seorang-budak.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Azan

http://pengumpulhikmah.blogspot.com/2013/02/kisah-sahabat-bilal-adzan-terakhir.html

http://usahadawah.wordpress.com/2008/01/07/asal-muasal-adzan-dan-iqomat-melalui-mimpi-shahabat-dan-perihal-mimpi-maulana-ilyas/

Nasiruddin.  2007. Kisah Orang-Orang Sabar. Jakarta: Republika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s